Rabu, 21 November 2012

-- 9 Dzulhijah --


: lanskap malam takbiran kali ini..
gelap yang benderang..!
tenang bulan terang tiga-perempat
menggantung awang-awang
tepat di ubun-ubun
ia mencerna segala makna
semua debar
meneriakkan takbir dan tahmid
tetapi berbisik lembut
di telinga batinku

"..kembalilah hening,
menjadilah bening..!"


-- dan.. aku terdiam, menelisik bisik sang rembulan.. --


.


serupa nyanyi sunyi

: masih
tersisa percik bermandi kabut dinihari tadi..
pendaran riap
di bias sinar tak menembus..
ada bìsik
serupa nyanyian teman seiring
"jangan biarkan cahayamu meredup..
hanya karena aku tiada,
atau
ku tak di sisimu.."


-- membekas sekali, hingga larut ke alam mimpi tanpa tidurku..--

ugh.. (keluh)


.

-- beyond.. --


:..tenang saja, ya jiwa..
duhai qalbu
dusta itu, khianat itu
kan membuat jiwa dan hatinya
jauh lebih merangas berbanding 'ngkau..
menggerogoti sisa hidup
menghidu tuba penyesalan
di tiap hela dan hirup nafasnya
sebagai robot
tanpa sukma..!

.

Jum'at ke-2 Sehabis Hujan


: tak ada kesan baik tertinggal 
seketika nafas hingar 
meloroh berpacu di seruang jantung 
tersekat di tenggorok
bersuara sengau 
serupa lenguh kerbau 
berjumpalitan pada bilik paru-paru 
melata ke ubun-ubun 
darah pelan mengental 
pedat 
teramat menyakitkan 
tak ada tangis 
tak ada tawa 
senyumpun tidak.. 
maut merembes di pori-pori 
argh.. 
Dia menegurku 
kali ini
dengan amatsangat santun..!

Rest in not Peace


"time pass slowly
and I'm here..
absolutely dying.."

: hei..!
jangan jauh-jauh melayangnya..
teriak lantang
pada si jiwa yang membubung
hanya membubung
tanpa arah
di kegelapan pula

haha.. sampai jumpa di neraka

-- itu pun jika Malik memberi izin visa..--


.

Re-Incognito

: dan,
kini tak perlu pembenaran itu, sayang
aku cukup mahfum
karenanya,
telah kutatah ulang namamu..
sembari meniupi debu karut
yang menggumpal tebal

ada tatah terpatah, mungkin
kuukir pada sajak tak berulang
dalam untai puisi kita
tertinggal, diam
tenang, pasi

nukilan pantun, syair
hingga ayat-ayat dari segala kitab-kitab suci
ternyata belum cukup menenangkan
semakin melukai..
impaskah?

itu menyakitkan sekalì, sayang
mengucur airmata darah
membuta tangisku
dalam sedu
dan isak
serupa banci

adalah namamu.. yang terdesis
lirih, tertatah-ulang itu, sayang
sekali lagi,
namamu..!
maafkan
jika tak indah
tak seharum wangi kesturi

-- 'ngkau tak perlu ragukan keyakinanmu, apapun.. dan itu cukup untuk "kuyakini" --

.

Perkabungan Sehelai Jiwa


: maafkan kelancanganku, Tuhan
aku bukan hanya hilang bentuk
remuk
mengembara di negeri asing..
bukan, Tuhan
tetapi tolong..
jangan pula Kau jadikan aku pembunuh
bukankah telah sering kurengekkan
dalam setiap percumbuan malam, Tuhan!?

aih.. sekali lagi, maafkan kemarahanku, Tuhan
"aku memang bukan siapa-siapa"


.

for god shake..!


: Ugh..
seketika metrum hidupku sumbang
nada
metronomnya pecah
dalam kepingan kelumpuhan
tiba-tiba
harus kumurkai sang taqdir?
betapa tragis kabar dari langit?

ayayayay..  'tuhan', '
ngkau memang bangsat..!


-- terimakasih 'tuhan', atas kesombonganmu..! --


.

quo vadisco

: matahari senja tadi berlumur keresahan
dikulum pahit kenyataan
ia mengenal dengan baik
kesiur angin di tiap pokok pohonan
dan
aku senja tadi bertabrakan
dengan resah
dilumat manìs sesal
hingga kedukaan
tanpa nada berselang
seketika
serasa ajal mendekat,
mendekap tanpa kuberdaya
tetapi,
ahh..
betapa angan-angan terlalu panjang
sementara..
"amalanku masih kurasa teramat buruk".

duh..

try to find..

: mungkin
'ngkau takmau tau..
tetapi, tiba-tiba
aku ditikam berkali-kali
oleh segala yang bermakna
dan indah
bersamamu..
sementara
setiap detilnya tersusun rapi
tak berdebu
setitikpun
di lemari memoarku

Abadi..!

nah,
dia menikam lagi..
tepat ketika kau terima,
saat 'ngkau baca
pesan ini..!
Ugh.

-- Enter the Longing.. --

: duh,
betapa tipis
batas dusta dan angkuh
hingga
disibukkan mencipta alasan
demi apakah..?

-- aku cuma mau bilang..
kalo aku kangen.
itu saja. --

aih,
maaf..
mungkin aku yang naif
dan
terjebak masalalu
ugh..

adios

: tepat
di garis isomer,
menjelmalah musim sunyi
entah di berapa derajat
lintang timur
bujur barat
terserah..
setidaknya hujan tak pernah ingkar
pada janji,
turun tanpa diminta,
meski diharap..
ahh,
sampai jumpa saja di hujan lain..
semoga
tak menjadi kedemaman
atau
kesakitan..
adios..!

every soul


: setiap jiwa adalah misteri..
akan tetap bertahan
setelah kematian
yang juga merupakan misteri..
selayak 'ngkau dan aku
pun adalah percikan misteri
dan kìni
aku tak mampu mengenali cintamu..
itu menjadi tak terpecahkan
sebab
cuma satu misteri terbesar dalam realita kekinianku..

"aku tak pernah bisa merelakanmu..!"

lipatan paling bawah

: kini gelegar guntur menggemuruh
menghantami genting rumah batin..
hujan lagi di sini,
sekali lagi -- seperti biasa --
dia selalu mengajarkanku menafsir
segala kerinduan
dan luka mengajariku
betapa nikmat "kebahagiaan"
hingga
tunaikah segala mimpi di sesorean janji..!?

mimpi kita tersuruk-serak
di lipatan terbawah alam absurdis utopia angkuh
berjudul acuh..!
Ugh.

dongeng cinta dan warna..

: di ceruk sebuah jurang
aku menemukan cupu
berisi cincin suasana hati

ternyata,
ia mampu mendeteksi
hingga memancarkan warna
serupa pancaran energi
dari hati manusia..

kuterawang
warna-warni yang membias
ketika kupakai di jemari
muncul di batu cincin..
putih untuk ketenangan
merah pada marah
jingga saat bersedih
berubah kuning jika senang
hijau ketika bahagia
membiru adalah damai
sedangkan nila membias saat nelangsa
dan..
ungu ketika birahi berkuasa
menghitam sebagai tanda sekarat

-- yang nggak kutemukan.. apa warna cinta..? --