Sabtu, 24 Desember 2011

cermin retak 999 atawa dialog setengah hati (lagi)

: bagaimana membaca dusta..?

 
"sulitkah bagi seorang perempuan
mengutarakan kejujuran..!?"
tanyaku galau
"sulit.."
"sesulit apakah..?" gigirku
di bayang cermin
'ngkau membuang pandang
ragu menjawab
"..andai sulitnya dibebankan
ke segitiga Bermuda,
maka terbelah-retaklah
apa yang disebut lautan misteri itu.."
aku mengedik sembari menjauh
melempar tanya arkais
"adakah
perempuan yang memiliki hati
lebih misterius tetapi jujur
seperti segitiga Bermuda..?"

'ngkau diam..
bercermin di retakan cermin

aku pun berlalu..
-- tetap tak mengerti, mana dusta.. mana misteri  --

.

bukan di sini...


 : cukup
jangan pernah tanyakan -lagi-
sejak kapan
'ngkau
jadi yang ke-sekian
setelah waktu
dan
kesempatan terbunuh
hitunghitungan
rencana manusia

Jumat, 23 Desember 2011

epitaf 04 Juli

by Fajar Barasukma on Friday, December 23, 2011 at 6:56am



: semisal saja
'ngkau "mau tau"
betapa pinginnya
aku menyampaikan
satu
kesalahan terbesarmu
"mencoba lupakan..!"
hingga tiap helai
daun kenangan
merangas
bertebaran
menjadi relief berlumut

had no...

by Fajar Barasukma on Friday, December 23, 2011 at 4:41am

: .... Iqra-ku tersendat
dalam kaji nan terpatah
Alif
Lamm
Mim
.....
karena memang baru segitu
cuma
se-upil
tau-ku rupanya
duh...

ini saja..!

by Fajar Barasukma on Thursday, December 22, 2011 at 10:52pm

: hanya ingin

ngkau
yang merajai
mimpiku
malam ini
sayap duka
sendu do'a
ngalun
ke setiap denyar rindu
pada si pentitih jiwa
terkasih
ibunda..!
untuknya...
jelas tak akan habis do'a-do'a
takkan henti berharap
memohon
yang terbaik
buat Ibunda
di manapun kini berada
dan
takkan pernah
semimpi pun niat
untuk menukar
semua kenangan
tentangmu
dengan apa pun..!
hingga jika
seribu kehidupan ditawarkan
padaku
tetap
hanya ingin 'ngkau saja
yang jadi bundaku


(Kolaborasi Dialog Puitik dengan Dwi Andari)

Kamis, 22 Desember 2011

;


sekelebatan bising
siluet ophelia  
menusuk memoar
tertatah..
 
"aduhai
tak ingin kuutarakan
apapun yang terjadi
pada lalu waktu 
kuibaratkan saja
seekor laron 
menabrak lampu pijar
dengan sebenarnya
aku tak pernah
menyesali
segala yang tercipta
antara 'ngkau
dan
kenangan
ku.." 

*****Ni kah..!?


... sehingga
rumahmu menjelma ruang sempit
tempat berkobar jihad akbar.
di rumah,
kamu bertemu musuh
yang lebih tangguh: dirimu!

di dalam rumah,
istri dan suami bisa akrab,
bisa mesra
karena ada kebutuhan bersama
sesaat atau selamanya.

tapi ingat
mereka juga bisa bertengkar,
sampai saling cakar
ketika keduanya bagai pohon
yang terpisah dari akar..

mereka jatuh
saling menimpa
saling mematahkan.

di Madinah
di dalam rumah
berkembang kemunafikan.

tiba-tiba bara emosi
membakar
sekerjapan hilang bentuk
tak tahu diri sendiri

tiba-tiba raja dan ratu ngambang
muncul dari cermin retak
ingin saling menindas dan menjajah.
tiba-tiba ada para pengecut
yang tidak berani mengakui kesalahan
dan kelemahan sendiri.

ketika sepasang kekasih
telah menjadi suami dan istri
sumpah bisa menjadi sampah
dan janji
menjelma bisa menohok

tetapi, sumpah dan janji kekasih
mungkin hanya tercetus karena emosi
yang setiap saat bisa diperbaiki dan dikoreksi.
sedangkan tekad untuk menjaga syahadat
tidak boleh rusak atau berkarat

Itulah yang harus menjadi ukuran
apakah
suami
istri
setia atau berkhianat.
*****

Selasa, 20 Desember 2011

resistant 00.00 atawa dialog setengah hati


 : bagaimana menggenggam setia..?
"beratkah
bagi seorang lelaki
menggenggam sebuah kesetiaan..?"
bisikmu pelan,
kujawab lirih
"berat.."
"seberat apakah...?" desahmu
dekat telingaku..
kutatapi
bening matamu
pelan kujawab
"andai
beratnya dibebankan
ke pegunungan himalaya,
maka
luluh lantaklah
apa yang disebut atap dunia itu..",
kau berdiri seraya berkata
"adakah
lelaki yang memiliki hati
lebih kuat dan lebih kokoh
dari himalaya..?

"entah,
 dan.. itu  
mungkin bukan aku"
 lirih..

-- gumamku. hanya dalam hati --

... to be continue


.

no mercy..!


 
: maafkan..
jika tak ada maaf
seperti juga
biaya kelakuan
tentu saja
teramat mahal
dan
seringkali di luar nalar
sekali lagi..
maaf..

Senin, 19 Desember 2011

...hanya jika;


   
"tolong..
coba 'ngkau biarkan
aku sendiri
sekedar mengukur
seberapa dalam rasa
cinta
rindu
atau apalah namanya
mengetuk

untuk tahu
sampaimana aku
membutuhkan
bukan memerlukan

coba
'ngkau tinggalkan
aku sendiri
sebab
kuingin tau
seberapalama
bertahan
tanpamu di sisiku.."

-- itu saja, tak lebih tak kurang. --

per-sekian ingatan



 

... perkenankan
: aku kan tetap
menulis tiap sukukata
dialogdialog
tiap detak dari detik
kebersamaan
canda
amarah
tawa
kesal
kita

bahkan
seandai mendadak
'ngkau buta huruf
pun andai tak lagi mengingat ku
maka izinkan kubaca untukmu
menanam lagi
tiap helai ingatan
detikdetik 
bersama
lalui  dan menjelajah
merenda waktu 
sebab.. kuingin 'ngkau
mengingatku
seperti aku mengingatmu


(Sajak Kolaborasi dengan Dwi Andari)

tablo rinai gerimis

 : senja berhujan
dia mengharap
sepi datang
demi rintik
desau angin
gemericik sunyi
dan
sepercik gelisah
ahh..

Minggu, 18 Desember 2011

sajak rindu di kopi secangkir


 
: tetapi harum ruap
aroma telah memasungku,
hinggaku
tak bergeming
Uggh.. merona aroma
dalam pasung rindu..?
berharap tersampaikan
walau tanpa perantara
lalu
biarkan bertalu bergema
meriung qalbu...!
jangan kau usik gema
yang ngalun
dari sesakan kelindan rindu
menggila dalam darahku 

(Kolaborasi Dialog Puitik dengan May Scarlet Maryam Dachlan)

****Ni kah..!?


: ...di Makkah 
sebelum hijrah
kau tuntut ilmu
- yang kemudian 'ngkau olah
lewat ritual shalat-mu..? -

menjadi bentuk kesadaran
cita dan harapan
api dan obsesi
menerangi jalan ke masa depan

sekarang,
melalui ijab-qabul
– bagai iqrar Aqabah –
maka dengan itu
telah 'ngkau buka gerbang Madinah
ketuk pintu bait Rasulullah,
dan
Rasulullah menggemakan sabdanya
yang telah pula 'ngkau kenal:
“Menikah adalah Sunnahku…”

hingga harusnya 'ngkau menjawab,
“Assalãmmu‘alaika ayyuhan-Nabiy!

keselamatan kami menjadi pasti
karena mengikuiti jejak langkahmu!”

lalu,
hijrahmu
ke Madinah..
'ngkau harus keluar menuju Badar
kalahkan musuhmu
kobarkan semangat
tegar jiwamu
dan dari Badar
'ngkau harus kembali ke Madinah
ke dalam rumah
sebagai hijrahmu..!
****

.

Sabtu, 17 Desember 2011

et repertum


 
: seperti hampir mustahil
bisa berlepas dari-Nya
tiap arah kupandang
bayang terkembang
menjelma 
teramat panjang
tujuan
kita
mengarah 
terlalu melelahkan

bagai bayangan
diriku takkan terlepas
bahkan
saat sisi jiwa tak lagi hijau
untuk tumbuhkan
rasa padamu

Dia tetap di pelupuk mata
tapi yakinkan..
untuk waktu
walau terlebur
diriku dengan bayang-Nya
walau luluh jantungku
terengkuh
takkan terenggut jiwaku
yang telah terjanjikan
takkan terbelah setiaku

-- sekali lagi untuk separuh jiwaku -- 

.