Kamis, 03 November 2011

after all


"....menyakitkan, sungguh
jika mencintai seseorang yang memperlakukan kita
bagai orang asing"
(catatan kecil di pledoi murka)

 
: masadepan memang
belum tentu terjadi
bukan tak percaya itu
tetapi
lagi-lagi harus temukan
kenyataan tak perlu
saat ini
sekarang..!

-- muntahkan..? --

Rabu, 02 November 2011

Prosesi Kesunyian...


: ahh..
kulantunkan bait-bait kesasar
dalam dawai hitam
.... dan biarkan
jelaganya membubung
atau menghias nada sunyi itu
katakan
kalau kita sama-sama panik
dan kehilangan
oh... sepeti kenangan
dan berisi "kehilangan..?"

 
--   ya, biarkan saja terbenam
dan sukses mati dalam gayau... --

cuma ada bayangan
sukmaku-sukmamu
dilindas kebisuan kata,
haalaaahh..
...bertalupaku di pintu sukasuka
lalu katakata terbingkai lelaku
larutkan dalam ketakpastian..
oh, betapa syahdu
sukma yang terluka...
tinggal giliran siapa yang
diarak tandu kesunyian saja..
baiknya,
balurkan juga sunyi
agar sepi tak membunuh
damn*


*baca = dem (sudah - bahasa Palembang)
(Kolaborasi dialog puitik dengan Lenchedan Letar)
16 Oktober 2011 : 21.27 - 23.49

tepi kali...


: derai air di kali kecil
menuntun angan
jiwa mengembara
entah
ke mana
simfoni ternada riuh
bagai satu himne panjang
tanpa jeda
tarian lidah api lilin
'ngkau sapa ramah, lirih


 

pada detik ke-sekian,
mata batinku kelilipan debu
yang Kau semburkan

-- aku masih manusia...
terperangkap labirin memoar usang --

Selasa, 01 November 2011

aduhai...!


-- di mata Tuhan,
kita masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
aku mempunyai Sang Nasib Pengasuhku sendiri!
dan 'ngkau diatur oleh Pengasuhmu.
lain!
kali ini pengasuhmu menyerahkanmu kepadaku!
tetapi..mungkinkah itu..?
sebab,
Pengasuhku bekerja konstruktif...!
meski tak selalu
sesekali Ia boleh menyeleweng! --

(kutipan dari dialog dalam cerpen GODLOB - Danarto)

 
:  nanti,
kau akan tau tanpa tekanan
siapa yang mencintamu
bukan hanya se-hatinya
tetapi se-jiwanya..!


.

Kelak..!

i'ombre


 
 
: kasur kapukku terbakar
semalam
meninggalkan bercak bayang
menyerupai tubuh
tubuhku
tak bersisa apa-apa
cuma hangus
gosong tanpa jiwa

Minggu, 30 Oktober 2011

antri..!!


 

rebutan antri sembako
minyak tanah, antri
antri mau berobat gratis
antrian kendaraan berebut jalan
sampai nabung pun ngantri
semua ikutan mengantri
antri...!!

cuma, mati
pada tak mau antri...


.

komposisi hujan di tiang jauh (prolog november)


 
: retaknya mengguyur
sendu, memang
menganak sungai di gigir batu
lalu biarkan
mengarung lingkar halaman hati
mungkin  sedikit
sumbang irama
tak terputus
membekas sedimen kulit
biarlah...

-- ini memang saatnya menziarahi sunyi -- 


.

Sabtu, 29 Oktober 2011

malek*


 
 
: membunuh
dan
menyakiti otak

dia kebiri tanpa jijik
lupa
pada apa pun
bahkan
bosan itu sendiri




*bosan > bahasa Palembang

FABELATORIUM


 
 

: seekor elang patah sayap
meluncur jatuh ke sungai tenang,
dicabik buaya
seekor kambing tua buta
mengunyah rumput,
moncongnya luka
disengat kala
seekor lipan terjepit kayu lapuk,
meronta hingga mati
sementara kerbau caplang
capai sendiri
digerogoti cacingpita
dan
musang betina bermata bola
berjagajaga
menerkam sesaat terlena
para babi dan anjing gendut
malasmalasan di pojok taman
ahayy...



paradoks alluvial


 
"...bukankah
kebohongan yang telah dikenal
lebih baik daripada kebenaran
yang masih tertutupi..?"
(Taufik El-Hakim - Setan dalam Bahaya)


 

: dengan demikian..
maka syahlah segala
bicarakan saja
tanpa dosa
sebab tak ada dosa
yang tak terampuni
seperti juga pahala
mungkin pula
tak ada yang tak diijabah
meski masih dapat
diperdebatkan

-- siapa tau..? --

Jumat, 28 Oktober 2011

kitab basi

 
 
 

: membacamu pada fajar terjelang
debu meliuk sempurna
berterbangan
menusuk bulu hidung
membangkitkan bersin
liur membuncah
memecah setiap kata
kalimat
paragraf
di paginamu
meski terlalu sering
dilafadz dalam hati
-- hingga terbasi-basi -- 
tetap tak jua mengenali
dan terhafal

hingga jumlah
semua isimu
 

epilog octosyllable


 


 : aku dan 'ngkau
kalah
dihantam angkuh

kita
mati
 

Kamis, 20 Oktober 2011

wajib mandi


 
 
: basah deh..
semalam bersetubuh
dengan mimpi
-- katanya --
harus mandi wajib
dan wajib mandi
 
-- padahal,
mandi kan cuma untuk yang merasa kotor saja --

apa memang wajib
mandi
setiap mau mimpi 



Selasa, 18 Oktober 2011

introducing 3


 
 
: parak* lah,
 teriakmu
di tengah riuhan badai 
berjejal mimpi
di selipan harap
tetapi
semakin pangling saja
jarak pandangku
kian silam
berceruk pula mata
jadinya
jauhlah
padanan kata
di awal sana
pudar makna

Senin, 17 Oktober 2011

polar


 
 

: pernah kuutarakan
dengan sungguh-sungguh

bagaimana mungkin
aku memenangi hatimu
jika
perbincangan qalbu kita keruh
bersungut