Jumat, 07 Oktober 2011

apa...?

"sudahlah sayang,
topeng itu telah robek
dan
tak mampu lagi menyembunyikan
apa pun

bukankah
sudah terlalu sering
kuutarakan padamu
bahwa:

jangan pernah
sekalikali
-lagi-
permainkan niat tulusku..!?

atau
apa..?"


.

-- te.o.el.o.el --

: dasar...
memang lebih dungu dari kerbau
kembaran sapi
...entah ga punya otak+hati
cuma ambisi

sekalian aja
panteng diri di jalan tol
biar ditabrak tronton!

(dan aku cuma jadi penonton)


.

Rabu, 05 Oktober 2011

argh..!

by Fajar Barasukma on Saturday, October 1, 2011 at 4:36pm
 


: rencah buyar

: terinjak ranjau
terpental
buyar hancur..
lantak
luluh rencah
pecah
dalam kepingan
kesia-siaan?
tiap kepingnya menceritakan
butir angka,
hurup,
dan sukukata
paling kata
sekalipun hampa makna


.

lantaran cuma...

by Fajar Barasukma on Saturday, October 1, 2011 at 2:27pm
 
 
 
: uraian
tak lempang
lempung
loyak
diurap kelakar
asap masih ruap
di bias matahari ungu
dan
kita tersapih waktu
digulung kelabu hasrat
berjudul "rutinitas"
ahh...


.

Let it Rain...

by Fajar Barasukma on Sunday, October 2, 2011 at 8:37pm
 
 
: malam bersimbah do'a
kutemukan gigir rinainya

hujan masih malu
menegur sungai sepi

sepucuk sajak
mengambang di selubung riak
setiap hurup bertanggalan
hanyut pada lirih
mengejaeja ombak
agar tak larut gelombang

hujan masih tertinggal...
.

sajak bening nan lebay

by Fajar Barasukma on Monday, October 3, 2011 at 12:25am
 
 
-- pada embun di tengah kabut asap --


"...duhai embun,
akan dengan sungguh
sungguh kukatakan
pabila kutempuhi deritajiwa
pada lava tanya
dan gelisah...
aku 'kan tetap mengingatmu

agar 'ngkau mengerti
bahwa 'ngkau
telah sejukkan
segenap nestapaku

-- meski 'ngkau takkan pernah tau --

akan dengan sungguh
sungguh "kumohonkan maaf"
telah mengganggu hidupmu
karena bagiku...
'ngkaulah penjelmaan sang embun itu"
 
.

Oh,

by Fajar Barasukma on Sunday, October 2, 2011 at 10:44pm



: baguslah..

sebagai monumen tanpa sejarah lumayan juga

padahal,
aku
hampir saja tak ingat ada hari itu


-jika saja tak disadarkan oleh alarm luka.-


.

qué razón..?

by Fajar Barasukma on Monday, October 3, 2011 at 12:54pm
 
 
apalagi ceritamu kini?

: bukankah
telah teramat sering
kusampirkan niat
di sekian rentang waktu
antara
85 purnama minus 29
dan
kepak acapkali melanglang
menyusur arah
tak tentu

-- dukasuka menandai
sejak ragajiwa menyatu --

sedang 'ngkau makin ambigu


.

Re-famplet

: sungguhku
tak dapat berdiam-dekam
di atas pusara tanah airmata


--yg semestinya bertabur benih kebaikan masa depan--
...
bukan tanahair hina
berkumur nestapanista
berdahak duka
bukan pula tanahair para durjana...
tapi...
"apa yg kubisa selain bermain kata..!?"

Senin, 03 Oktober 2011

-- at least --

: jarak terdekat semakin jauh..
kita tak lagi bersapa, tak lagi bertemu, 
bercakap dalam damai
lalu silam terkarut tempias mimpi yang enggan datang

Minggu, 02 Oktober 2011

-- mencret --

: kontraksi perut
ekstasi
menuju kelegaan


"maaf,
...kerusakan bukan
pada perut anda.
Hahahaha..."

Kamis, 29 September 2011

Kitsch

: nah,
bagaimana aku bisa menghargai ?
bahkan 'ngkau 
seupilpun tak menghargai
apalagi menghormati 
'alasanmu'  sendiri...!
sekalipun itu cuma bullshit...!















** kitsch ( inggris ) : terlalu norak atau sentimental seni;
biasanya dipertimbangkan dalam rasa buruk

extinct

: pelan dan pasti 
'rasa' itu punah
diteguk kebohongan 
bertubi-tuba

smoga membusuk, 
terhidu bacin,
menjadi humus di tanah hati
Amin.

- ini bukan do'a -

















.

Piece a Cake

aku bosan menentramkan hati
yang terus bertanya 
bagaimana melupakan 
dan
menetak masalalu 
yang menjadikan ku seperti sekarang ?

sialan...!

















.

Senin, 26 September 2011

log off

: duh, 
terlalu tipis batas dusta
dan angkuh
hingga 
disibukkan mencipta alasan 
demi apalah ?

aih, maaf...
mungkin aku yang naif 
dan
terjebak masalalu